Banjir sepenuhnya ulah kita!


Banjir dimana-mana dan semua mengatakan iklim dan cuaca ekstrim yang menyebabkan. Apakah betul iklim dan cuaca yang menyebabkan. Mari kita lihat satu persatu perubahan bumi dan seisinya. Jangan-jangan banjir dan kerusakan alam ini semua perbuatan manusia. Konon perubahan iklim itu salah satunya faktor polusi. Manusia membakar bahan bakar dari fosil dan berlebihan, membuat polusi udara, terjadi pemanasan global  sampai membuat lapisan ozon rusak, lalu terladi perubahan iklim dan cuasa. Perubahan iklim dan cuaca menjadi tidak normal, kalau hujan lebat sekali, kalau panas, panas sekali. Bagi daerah yang masih hutan dan tidak perpenghuni tidak masalah, karena hujan bisa ditampung oleh alam, hutan dan bumi mampu menampung air hujan.

Kalau hujan jatuh di tengah kota jadi lain persoalannya. Kota sudah jarang ada bumi terbuka dengan pepohonan. Sudah banyak beton, aspal, bangunan dan pabrik-pabrik, sehingga air jatuh ke beton, conblok, aspal ya mengalir begitu saja, dan menyatu dari berbagai penjuru menyebabkan banjir. Untung kalau kota itu memperhatikan adanya resapan air dipekarangan mereka, sehingga air hujan bisa tertampung di peresapan air. Ada Perda yang mengatur kalau membangun rumah harus disediakan resapan air hujan. Namun Perda ini tidak pernah diperhatikan, membangun rumah dipenuhi dengan luas tanahnya dan tanpa sumur peresapan air hujan. Akibatnya air ya mengalir menjadi satu dengan yang lain lalu banjir.

Di Jakarta ada banyak situ (danau buatan) yang dipergunakan untuk menampung air hujan dari kawasan-kawasan sekitar. Jadi untuk daerah Jakarta (harusnya) ada sumur-sumur peresapan dan situ-situ yang menampung air hujan. Sekarang tidak tahu nasib situ-situ tersebut apakah masih berfungsi atau menjadi alih fungsi. Kalau situ-situ beralih fungsi ya nasib air hujan tidak lagi berkumpul di situ-situ tetapi menyatu menjadi banjir.

Ada lagi assaenering atau saluran air kotor dan saluran air hujan. Apakah assanering ini dimaksimalkan kemanfaatannya? Kebanyakan assaenering tidak dibersihkan, penuh dengan sampah sehingga air hujan tidak bisa mengalir dan mampet. Menyebabkan air hujan jatuh terus mengalir lagi di jalan-jalan lalu menjadi satu dengan air yang mengalir di jalan yang lain, akibatnya air membanjir. Kalau semua air dijalan berkumpul menjadi satu dan jatuh ke Sungai akan meluaplah air sungai dan melanda apa saja yang ada disekitarnya.

Normalaisasi sungai-sungai. Sungai-sungai keberadaannya menjadi lebih sempit, karerna adanya bangunan-bangunan atau keperluan lain yang mempersempit daerah aliran sungai. Juga sampah-sampah mengotori sungai dan menumpuk, yang kadang lalu menyumbat aliran sungai. Diameter sungai tidak lagi bisa lagi menampung air yang ada. Maka terjadilah luapan air dan mengalir di jalan-jalan menerjang apa-apa.

Menurut saya yang awam terhadap ekologi dan meteorologi pemulis hanya bisa mengatakan bahwa hal-hal diatas kalau  ditata, dinormalisas dan difungsikan dengan baik, kiranya bisa mengurangi banyak akibat banjir.

Jaga kebersihan kurangi polusi udara, air dan darat yang bisa mengubah iklim menjadi ekstrim. Perlu dibangun kesadaran akan kebersihan segala menjadi penting. Setiap bangunan hendaknya menyisakan lahan terbuka (tidak disemen, conblok, aspal) syukur ada tanaman dan sumur resapan air hujan untruk mengurangi air mengalir. Normalisasi aliran sungai yang ada, bersihkan sampah dan singkirkan bangunan-bangunan dari pinggir sungai. Manfaatkan situ-situ penampungan air hujan dan juga normalisasi situ-situ. Dibersihkan dari kotoran/sampah dan dikeruk secara periodik dari endapan lumpur yang ada. Maksimalkan assaenering dengan baik, bersihkan secara rutin dari sampah-sampah. (asg).

  

Posting Komentar untuk "Banjir sepenuhnya ulah kita!"