Kalau hujan jatuh di tengah kota
jadi lain persoalannya. Kota sudah jarang ada bumi terbuka dengan pepohonan. Sudah
banyak beton, aspal, bangunan dan pabrik-pabrik, sehingga air jatuh ke beton,
conblok, aspal ya mengalir begitu saja, dan menyatu dari berbagai penjuru
menyebabkan banjir. Untung kalau kota itu memperhatikan adanya resapan air
dipekarangan mereka, sehingga air hujan bisa tertampung di peresapan air. Ada Perda yang mengatur kalau
membangun rumah harus disediakan resapan air hujan. Namun Perda ini tidak
pernah diperhatikan, membangun rumah dipenuhi dengan luas tanahnya dan tanpa
sumur peresapan air hujan. Akibatnya air ya mengalir menjadi satu dengan yang
lain lalu banjir.
Di
Jakarta ada banyak situ (danau buatan) yang dipergunakan untuk menampung air hujan
dari kawasan-kawasan sekitar. Jadi untuk daerah Jakarta (harusnya) ada
sumur-sumur peresapan dan situ-situ yang menampung air hujan. Sekarang tidak
tahu nasib situ-situ tersebut apakah masih berfungsi atau menjadi alih fungsi. Kalau
situ-situ beralih fungsi ya nasib air hujan tidak lagi berkumpul di situ-situ
tetapi menyatu menjadi banjir.
Ada
lagi assaenering atau saluran air kotor dan saluran air hujan. Apakah assanering
ini dimaksimalkan kemanfaatannya? Kebanyakan assaenering tidak dibersihkan,
penuh dengan sampah sehingga air hujan tidak bisa mengalir dan mampet.
Menyebabkan air hujan jatuh terus mengalir lagi di jalan-jalan lalu menjadi
satu dengan air yang mengalir di jalan yang lain, akibatnya air membanjir.
Kalau semua air dijalan berkumpul menjadi satu dan jatuh ke Sungai akan
meluaplah air sungai dan melanda apa saja yang ada disekitarnya.
Normalaisasi
sungai-sungai. Sungai-sungai keberadaannya menjadi lebih sempit, karerna adanya
bangunan-bangunan atau keperluan lain yang mempersempit daerah aliran sungai. Juga
sampah-sampah mengotori sungai dan menumpuk, yang kadang lalu menyumbat aliran sungai.
Diameter sungai tidak lagi bisa lagi menampung air yang ada. Maka terjadilah
luapan air dan mengalir di jalan-jalan menerjang apa-apa.
Menurut
saya yang awam terhadap ekologi dan meteorologi pemulis hanya bisa mengatakan
bahwa hal-hal diatas kalau ditata,
dinormalisas dan difungsikan dengan baik, kiranya bisa mengurangi banyak akibat
banjir.
Jaga
kebersihan kurangi polusi udara, air dan darat yang bisa mengubah iklim menjadi
ekstrim. Perlu dibangun kesadaran akan kebersihan segala menjadi
penting. Setiap bangunan hendaknya menyisakan lahan terbuka (tidak disemen, conblok,
aspal) syukur ada tanaman dan sumur resapan air hujan untruk mengurangi air
mengalir. Normalisasi aliran sungai yang ada, bersihkan sampah dan singkirkan
bangunan-bangunan dari pinggir sungai. Manfaatkan situ-situ penampungan air
hujan dan juga normalisasi situ-situ. Dibersihkan dari kotoran/sampah dan
dikeruk secara periodik dari endapan lumpur yang ada. Maksimalkan assaenering
dengan baik, bersihkan secara rutin dari sampah-sampah. (asg).
Posting Komentar untuk "Banjir sepenuhnya ulah kita!"