mengalami kesulitan (disulitkan) bertubi-tubi oleh orang-orang yang bisa membuat orang lain paceklik. Masyarakat Indonesia telah ditipu habis-habisan. Minyak goreng satu literan cuma diisi 750-800 Mililiter, emas batangan dipalsu, uang dipalsu, pertamax ternyata pertalite, beras, gula dan PHK. Ini sungguh menyulitkan masyarakat, dan yang membuat sengsara masyarakat. Kiranya melihat kondisi seperti diatas cukup untuk mengatakan bahwa masyarakat dalam kondisi paceklik.
Kondisi paceklik di jaman Firaun
selama 7 tahun bisa diatasi oleh Yusuf, yang sebelumnya membuat lumbung-lumbung
gandum dan bahan makanan lain, yang dipersiapkan juga selama 7 tahun. Hasilnya
selama masa paceklik masyarakat bisa makan dan tercukupi kebutuhannya. Itu
karena Firaun cerdas dengan mengangkat Yusuf si tukang mimpi menjadi Perdana
Menteri di Mesir. Tentu selama 7 tahun Yusuf memberi penyadaran kepada
masyarakat Mesir untuk berhemat dan menabung, karena 7 tahun ke depan akan
datang masa paceklik. Paceklik bisa diatasi.
Saya membayangkan bahwa Yusuf
menjadi Perdana Menteri disegani oleh para pegawai pemerintah, dan yang lebih
penting Yusuf dipercaya untuk memimpin pegawai-pegawai dengan managemen yang
baik. Mereka menumpuk makanan-makanan untuk 7 tahun lamanya, dan tidak menjadi
kekurangan. Mereka menumpuk tidak untuk dirinya sendiri tetapi untuk
masyarakat. Apakah ada korupsi waktu itu disana? Mungkin juga ada, tetapi
secara keseluruhan di dalam kepemimpinan Yusuf berhasil menyelamatkan
masyarakatnya dari paceklik.
Bandingkan dengan Indonesia,
negeri elok, tanah subur, dan kaya raya, ada tambang emas, batubara, minyak dll
tetapi banyak pemimpin yang memikirkan diri sendiri. Mereka menumpuk harta
untuk dirinya sendiri, dan bukan hanya untuk 7 tahun, tetapi untuk 7 turunan. Tidak
ada atau belum ada pimpinan yang begitu memperhatikan rakyatnya. Apakah perlu
orang asing untuk membenahi? Karena bagi Mesir, Yusuf pun orang asing, orang
Israel yang menjadi budah belian, tetapi melalui kupasan mimpi-mimpi menjadi Perdana
Menteri.
Apakah diperlukan bekas budak
belian, penafsir mimpi dan orang asing untuk memimpin Indonesia, seperti Yusuf?
Tetapi Yusuf bukan saja budak belian dan
penafsir mimpi tetapi anak seorang
tokoh, yang dibuang dan diasingkan oleh saudara-saudaranya. Namun yang jelas perlu hadir seorang “nabi”
untuk memimpin Indonesia. Nabi yang mencerahkan
bangsanya dari kegelapan masa depan. Ia bisa mengingatkan kepada bangsa
Indonesia supaya sadar bahwa tanah air kita kaya, dan untuk kemakmuran rakyat,
bukan untuk ditimbun sampai tujuh turunan. Supaya sadar kita butuh bersatu untuk
melawan kelaliman dan kesewenang-wenangan. Bersatu dan bersama memberantas
kemunafikan-kemunafikan.
Model kepemimpinan nenek moyang kita perlu diaktualkan kembali, dan bukan
hanya sebagai jargon dan retorika politik. Model kepemimpinan Astabrata, model
kepemimpinan Panca Indera, model kepemimpinan Ki Hajar Dewantara “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun
karsa, tut wuri handayani“. Atau kepemimpinan
dipergunakan Sri Sultan HB IX, „Tahta Untuk Rakyat“, kepemimpinan Sukarno
Pancasila.
Posting Komentar untuk "Paceklik"