Paceklik

Paceklik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV, diartikan sebagai: musim kekurangan bahan makanan; masa sepi (untuk untuk perdagangan) yang ketiga artinya masa sulit. Sebenarnya paceklik dari Bahasa Jawa, dalam arti yang sama seperti pada KBBI. Saat ini Masyarakat juga
mengalami kesulitan (disulitkan) bertubi-tubi oleh orang-orang yang bisa membuat orang lain paceklik. Masyarakat Indonesia telah ditipu habis-habisan. Minyak goreng satu literan cuma diisi 750-800 Mililiter, emas batangan dipalsu, uang dipalsu,
 pertamax ternyata pertalite, beras, gula dan PHK. Ini sungguh menyulitkan masyarakat, dan yang membuat sengsara masyarakat. Kiranya melihat kondisi seperti diatas cukup untuk mengatakan bahwa masyarakat dalam kondisi paceklik.

Kondisi paceklik di jaman Firaun selama 7 tahun bisa diatasi oleh Yusuf, yang sebelumnya membuat lumbung-lumbung gandum dan bahan makanan lain, yang dipersiapkan juga selama 7 tahun. Hasilnya selama masa paceklik masyarakat bisa makan dan tercukupi kebutuhannya. Itu karena Firaun cerdas dengan mengangkat Yusuf si tukang mimpi menjadi Perdana Menteri di Mesir. Tentu selama 7 tahun Yusuf memberi penyadaran kepada masyarakat Mesir untuk berhemat dan menabung, karena 7 tahun ke depan akan datang masa paceklik. Paceklik bisa diatasi.

Saya membayangkan bahwa Yusuf menjadi Perdana Menteri disegani oleh para pegawai pemerintah, dan yang lebih penting Yusuf dipercaya untuk memimpin pegawai-pegawai dengan managemen yang baik. Mereka menumpuk makanan-makanan untuk 7 tahun lamanya, dan tidak menjadi kekurangan. Mereka menumpuk tidak untuk dirinya sendiri tetapi untuk masyarakat. Apakah ada korupsi waktu itu disana? Mungkin juga ada, tetapi secara keseluruhan di dalam kepemimpinan Yusuf berhasil menyelamatkan masyarakatnya dari paceklik.

Bandingkan dengan Indonesia, negeri elok, tanah subur, dan kaya raya, ada tambang emas, batubara, minyak dll tetapi banyak pemimpin yang memikirkan diri sendiri. Mereka menumpuk harta untuk dirinya sendiri, dan bukan hanya untuk 7 tahun, tetapi untuk 7 turunan. Tidak ada atau belum ada pimpinan yang begitu memperhatikan rakyatnya. Apakah perlu orang asing untuk membenahi? Karena bagi Mesir, Yusuf pun orang asing, orang Israel yang menjadi budah belian, tetapi melalui kupasan mimpi-mimpi menjadi Perdana Menteri.

Apakah diperlukan bekas budak belian, penafsir mimpi dan orang asing untuk memimpin Indonesia, seperti Yusuf?  Tetapi Yusuf bukan saja budak belian dan penafsir mimpi tetapi  anak seorang tokoh, yang dibuang dan diasingkan oleh saudara-saudaranya.  Namun yang jelas perlu hadir seorang “nabi” untuk memimpin Indonesia. Nabi yang mencerahkan bangsanya dari kegelapan masa depan. Ia bisa mengingatkan kepada bangsa Indonesia supaya sadar bahwa tanah air kita kaya, dan untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk ditimbun sampai tujuh turunan. Supaya sadar kita butuh bersatu untuk melawan kelaliman dan kesewenang-wenangan. Bersatu dan bersama memberantas kemunafikan-kemunafikan.

Model kepemimpinan nenek moyang kita perlu diaktualkan kembali, dan bukan hanya sebagai jargon dan retorika politik. Model kepemimpinan Astabrata, model kepemimpinan Panca Indera, model kepemimpinan Ki Hajar Dewantara  “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani“.  Atau kepemimpinan dipergunakan Sri Sultan HB IX, „Tahta Untuk Rakyat“, kepemimpinan Sukarno Pancasila.  

Posting Komentar untuk "Paceklik"