![]() |
Rama Vikep A.R.Yudono Suwondo (tengah berjubah dengan selempang hitam) bersama Bupati dan Wakil Bupati Kulon Progo |
Pada tanggal 29 Maret saudara kita yang berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa “Ngesti Kasampurnan“ yang berpusat di Muntilan Magelang Jawa Tengah memperingati turunnya ilmu Kasuksman Tiga Perangkat, yang ke 107. Ilmu itu diturunkan kepada RSP Sastrasoewignjo yang kemudian diajarkan kepada kerabatnya. Sampai sekarang masih berkembang dan tersebar di wilayah Indonesia terutama Jakarta, Jawa Tengah dan DIY. Tidak ada hubungannya dengan hari Suci Nyepi yang pada tahun ini jatuh pada 29 Maret 2025. Namun keberadaan dari sebuah Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang cukup besar, perlu dihormati juga.
Lebaran kali ini didahului dengan
hari suci Nyepi yang jatuh pada tanggal 29 Maret 2025. Pada hari Nyepiya sepi betul, karena umat Islam
dan Katolik sedang masa puasa. Masa puasa umat Islam jatuh pada tanggal 1 Maret
sampai 31 Maret sedang umat Katolik jatuh pada tanggal 6 Maret sampai 18 April 2025.
Nyepi juga dapat dikategorikan berpuasa karena ada Caturbrata yaitu empat
tindakan pantangan yaitu mati geni (tidak boleh menyalakan api), mati
karya (tidak boleh bekerja), mati lelungan (tidak boleh bepergian)
dan mati lelanguan (tidak boleh bersenang-senang). Praktis dalam keadaan
tidak melakukan apapun, berdiam diri.
Rama Merdi (batik kuning tengah) dengan Bupati Bantul, didampingi perwakilan FMKI Bantul
Lalu apa yang dilakukan ketika kita berdiam diri dalam seharian penuh? Tentu
ada maksudnya, yaitu supaya kita bermawas diri, merenungkan segala peristiwa
dalam diri kita masing-masing. Memutar kembali kehidupan yang lalu, mana yang
tidak baik dan mana yang baik. Secara spiritual kita meninggalkan hal-hal buruk
dan beralih kepada tindak yang baik dan benar. Ini kurang lebih sama dengan
puasa. Puasa kali ini bersama dilaksanakan
oleh umat Islam dan Katolik, hanya ada selisih waktu. Umat Islam mulai puasa 1
Maret sampai 31 Maret, sedangkan umat Katolik tanggal 6 Maret sampai 18 April 2025. Tentu memiliki nuansa yang sama setelah puasa
yaitu transfomasi hidup yang lama menjadi hidup yang baru. Semoga tarnsformasi hidup keagamaan kita juga
menjadikan transformasi hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara
Pasca hari Suci Nyepi dan puasa ada transformasi hidup dan kehidupan,
setidaknya terlihat dari hubungan pemerntah dengan umat beragama. Kalau dulu
ada tri kerukunan (kerukunan interen uat beragama, kerukunan antarumat beragama
dan kerukunan antarumat dengan pemerintah), saat ini hubungan semakin mesra
antara pemerintah dan umat beragama. Hal ini nampak dari partisipasi aktif dari
umat Katolik, dari pimpinan tertinggi sampai ke tingkat paling bawah
(lingkungan) umat Katolik begitu antusias berpartisipasi aktif dalam giat
mengucapkan selamat Idul Fitri, kunjungan/mengunjungi keluarga-keluarga mengucapkan
salam, ikut serta mengamankan jalannya perayaan dan solat Ied, membuka posko
lebaran dan lainnya. Kunjungan antar pemuka agama Katolik dan Islam nampak
dimana-mana, tidak hanya lokal, regional, nasional dan internasional.
Kita merefleksi kehidupan bersama saat ini yang nampaknya sedang tidak baik-baik
saja. Kehidupan beragama kita selama ini sebagian berjalan semarak, baik dan
berjalan lancar tanpa gangguan dan aman-aman. Namun sebagian hidup beragama
kita tidak nyaman, di Myanmar ada Katedral yang dirusak, ada penolakan dan
pembubaran orang-orang yang sedang beribadat, ada orang melempar mercon ke
orang saat takbir keliling justru dari dalam rombongan, dst.
Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita sedang tidak
baik-baik saja. Persis sama seperti apa yang tertulis di dalam Kitab
Kebijaksanaa Salomo. ”Mari kta menindas orang miskin yang benar, kita jangan
mengasihani janda, dan jangan peduli akan uban orang yang lanjut usia. Kekuatan
kita hendaknya menjadi kaidah keadilan, sebab yang lemah ternyata tidak
berguna. Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi
gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum
ditudhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap Pendidikan
kita. Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tengtang Allah,..”
![]() |
Pemuda Katolik Komcab Kab.Sleman bersama Bupati Sleman Hardakiswoyo dan ibu |
Inilah situasi kehidupan saat ini, semoga dengan hari Suci Nyepi, Lebaran, puasa dan kunjung- mengunjungi ini ada transformasi kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jangan ada lagi orang yang mengatakan “mari menindas orang miskin yang benar” dan tidak ada lagi yang “menghadang orang baik” serta “tidak peduli dengan uban orang lanjut usia”. Menjadi orang-orang yang sungguh beragama secara lahir dan batin.
Posting Komentar untuk "Nyepi - Puasa - Lebaran dan Transformasi Budaya"